IKM Surakarta Gelar UNI PARJO #01 di Pasar Jongke, Kolaborasi Budaya Minang dan Jawa Dorong UMKM Kreatif

SOLO (27/03) — Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) Kota Surakarta menghadirkan event budaya bertajuk UNI PARJO #01 (Urang Minang Pasar Jongke) sebagai ruang kolaborasi budaya Minang dan Jawa sekaligus penggerak ekonomi kreatif di Kota Solo. Kegiatan yang akan digelar di kawasan ikonik Pasar Jongke ini membuka peluang luas bagi pelaku kuliner, pengrajin (craft), serta UMKM kreatif untuk berpartisipasi dalam perhelatan budaya berbasis kearifan lokal. Event ini merupakan inisiasi komunitas Minang di Solo yang didukung oleh DPD IKM Kota Surakarta di bawah kepemimpinan Yunaldi Efendi. Kehadiran UNI PARJO diharapkan tidak hanya menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga mampu memperkuat sinergi antarbudaya serta mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat. “UNI PARJO menjadi ruang temu budaya yang menghadirkan kekayaan tradisi Minangkabau dan Jawa dalam satu harmoni, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku usaha lokal,” ujar panitia. Dalam kegiatan ini, pengunjung akan disuguhkan beragam kuliner khas Minang dan Jawa, mulai dari makanan tradisional, minuman khas, hingga produk kreatif dan hasil bumi seperti sayuran segar yang dapat dinikmati langsung. Mengusung konsep pasar budaya terbuka, UNI PARJO direncanakan berlangsung secara rutin setiap hari Sabtu di area strategis Pasar Jongke, tepatnya di pelataran parkir dan taman depan pasar yang luas dan representatif. Jadwal Pelaksanaan UNI PARJO #01 🗓️ Sabtu, 4 April 2026 ⏰ Pukul 16.00 – 23.00 WIB 📍 Pelataran Pasar Jongke, Solo Pendaftaran peserta dibuka mulai 26 Maret hingga 2 April 2026. Sementara itu, technical meeting akan dilaksanakan pada: 🗓️ Kamis, 2 April 2026 ⏰ Pukul 14.00 WIB 📍 Lantai 3 Pasar Jongke Solo Para pelaku usaha kuliner dan kreatif yang ingin bergabung dapat mendaftarkan diri melalui tautan berikut:👉 https://bit.ly/UniParjo01 Untuk informasi lebih lanjut, dapat menghubungi Contact Person di nomor 081371866396. Kegiatan ini diharapkan mampu menjadi wadah berkarya bersama masyarakat kota sekaligus memperkuat identitas budaya Nusantara melalui kolaborasi Minang dan Jawa. Catatan Redaksi Pelaksanaan UNI PARJO sebelumnya direncanakan pada Sabtu, 14 Maret 2026. Namun, jadwal tersebut mengalami penyesuaian dan ditunda menjadi Sabtu, 4 April 2026 karena pertimbangan teknis dan kesiapan acara. (Rizal Malin Kayo)
Ribuan Perantau Minang Berangkat Pulang Basamo 2026 Gelombang Kedua, Tiket Habis dalam 1 Jam

JAKARTA – Suasana penuh semangat dan haru mewarnai pelepasan ribuan perantau Minangkabau yang mengikuti program Pulang Basamo 2026 Gelombang II di Lapangan Jantung Sehat DPR, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Minggu (15/3/2026). Program mudik bersama ini digelar oleh Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Fraksi Gerindra sekaligus Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Sumatera Barat, Andre Rosiade, yang kembali memfasilitasi perantau Minangkabau untuk pulang ke kampung halaman di Sumatera Barat menjelang Hari Raya Idulfitri. Sejak pagi hari, ratusan hingga ribuan peserta telah memadati lokasi keberangkatan. Mereka datang membawa koper, tas besar, serta berbagai oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman. Wajah-wajah penuh rindu terlihat di antara para peserta yang tak sabar untuk kembali ke Ranah Minang. Puluhan bus yang telah disiapkan panitia secara bertahap diberangkatkan menuju berbagai daerah di Sumatera Barat, seperti Padang, Bukittinggi, Payakumbuh, hingga daerah-daerah lainnya. Andre Rosiade mengatakan bahwa program Pulang Basamo merupakan bentuk kepedulian kepada masyarakat Minangkabau di perantauan agar dapat pulang kampung dengan lebih mudah, aman, dan nyaman. Menurutnya, tradisi pulang kampung memiliki makna yang sangat penting bagi masyarakat Minangkabau, terutama untuk mempererat hubungan keluarga dan menjaga ikatan dengan kampung halaman. “Program Pulang Basamo ini kita selenggarakan untuk membantu perantau Minangkabau agar bisa pulang ke kampung halaman bersama-sama menjelang Lebaran,” ujar Andre saat melepas rombongan pemudik. Antusiasme perantau terhadap program ini juga sangat tinggi. Hal tersebut terlihat dari cepatnya tiket peserta habis setelah pendaftaran dibuka secara daring. Koordinator Pulang Basamo 2026, Muhammad Reza Ikhwan, mengatakan tiket yang disediakan bahkan habis hanya dalam waktu sekitar satu jam sejak pendaftaran dibuka. “Tiket langsung habis dalam waktu sekitar satu jam setelah pendaftaran dibuka secara online. Ini menunjukkan betapa besar minat perantau untuk pulang kampung melalui program ini,” ujarnya. Peserta Pulang Basamo tidak hanya berasal dari wilayah Jabodetabek, tetapi juga datang dari berbagai kota lain di Indonesia. Beberapa peserta bahkan berasal dari daerah yang cukup jauh seperti Samarinda dan Bali. Hal ini menunjukkan kuatnya ikatan emosional masyarakat Minangkabau terhadap kampung halaman mereka di Ranah Minang. Selain memfasilitasi perjalanan mudik, program Pulang Basamo juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarperantau Minangkabau yang selama ini tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, panitia juga menyampaikan apresiasi kepada jajaran kepolisian yang turut mendukung pengamanan selama perjalanan para pemudik menuju Sumatera Barat. Wakapolda Sumatera Barat Brigjen Solihin menyampaikan bahwa pihak kepolisian memberikan pengawalan terhadap rombongan bus sebagai bentuk pelayanan kepada masyarakat. Menurutnya, pengawalan dilakukan sejak keberangkatan hingga rombongan tiba di wilayah Sumatera Barat untuk memastikan perjalanan berlangsung aman dan lancar. Selain itu, seluruh armada bus yang digunakan dalam program Pulang Basamo juga telah melalui proses pemeriksaan kelayakan kendaraan guna menjamin keselamatan para peserta selama perjalanan. Program Pulang Basamo sendiri telah menjadi tradisi kuat bagi masyarakat Minangkabau di perantauan. Setiap tahun, ribuan perantau memanfaatkan program ini untuk kembali ke kampung halaman dan merayakan Hari Raya Idulfitri bersama keluarga. Bagi banyak perantau Minangkabau, Pulang Basamo bukan sekadar perjalanan mudik. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi simbol kuatnya hubungan antara perantau dengan Ranah Minang—tempat di mana rindu selalu menemukan jalan untuk kembali.
IKM Solo Raya Gelar Buko Puaso Basamo, Satukan Pejabat dan Tokoh Perantau Minangkabau di Surakarta

SOLO – Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan terasa dalam kegiatan Buko Puaso Basamo yang digelar keluarga besar Ikatan Keluarga Minang (IKM) Solo Raya bersama para pejabat dan tokoh perantau Minangkabau. Kegiatan yang berlangsung di Rumah Makan Embun Pagi Neo, Solo, Sabtu (14/3/2026) tersebut menjadi momentum mempererat silaturahmi antarurang awak di tanah rantau. Kegiatan yang dilaksanakan dalam nuansa Ramadan ini mempertemukan berbagai tokoh Minangkabau yang berkiprah di Solo Raya. Selain menjadi ajang berbuka puasa bersama, kegiatan ini juga menjadi wadah memperkuat rasa kekeluargaan sekaligus menjaga nilai-nilai budaya Minangkabau di perantauan. Sejumlah pejabat dan tokoh turut hadir dalam kegiatan tersebut, di antaranya Komandan Denpom IV/4 Surakarta, Letkol Cpm Rifky Nurachman, Kepala Dinas Personel Lanud Adi Soemarmo, Kolonel Adm Yogie Azhar Koto, Komandan Skadik 403 Lanud Adi Soemarmo, Letkol Pas Irvien Joni, serta Kepala Dinas Operasi Lanud Adi Soemarmo, Kolonel Pnb Adi Putra Buana. Hadir pula Kepala Sekretariat Lanud Adi Soemarmo yang juga Widyaiswara Pratama, Letkol Adm Osvandry, Ketua Dewan Pembina DPD IKM Kota Surakarta, H. Epi Rizandi, serta Dewan Pembina IKM, Ganto Suaro. Dari jajaran pengurus IKM Surakarta, tampak hadir Ketua DPD IKM Surakarta, Yunaldi Efendi Piliang, Wakil Ketua DPD IKM Solo, Datuk Yusuf, Sekretaris DPD IKM Surakarta, Buyung M. Faiza, Bendahara Yayan, serta Kabid Sosial Tedy Lembang. Turut hadir pula Kepala Yayasan Minang Saiyo, Goesti Hadi. Dalam suasana penuh keakraban, para tokoh dan undangan saling berbincang, bertukar cerita, serta mempererat hubungan persaudaraan sesama perantau Minangkabau yang telah lama menetap di Solo Raya. Melalui kegiatan Buko Puaso Basamo ini, diharapkan semangat kebersamaan, nilai-nilai adat dan budaya Minangkabau, serta tradisi silaturahmi tetap terjaga dan semakin kuat di tengah kehidupan masyarakat Minang di perantauan. Kegiatan ini sekaligus menjadi bukti bahwa ikatan kekeluargaan urang awak tetap hidup dan terpelihara, meskipun berada jauh dari ranah Minangkabau. (Rizal Malin Kayo)
Kajian Hukum Penetapan Status Keadaan Darurat Bencana Nasional

Sebagai bagian dari Ikatan Keluarga Minangkabau yang peduli terhadap ketahanan dan kesejahteraan masyarakat, kami berupaya memberikan pemahaman yang jelas dan tepat tentang landasan hukum, mekanisme, dan implikasi dari penetapan keadaan darurat dalam situasi bencana. Semoga kajian ini dapat menjadi referensi yang bermanfaat bagi masyarakat, akademisi, pembuat kebijakan, dan seluruh pihak yang berkepentingan dalam menghadapi dinamika bencana di Indonesia. Download File
DPP IKM Siap Pecahkan Rekor MURI, Masak Rendang Terbanyak di Luar Negeri

TOKYO – Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM) akan mencetak sejarah baru melalui gelaran akbar Marandang, festival memasak rendang terbanyak di Tokyo, Jepang. Kegiatan ini akan digelar pada Sabtu (18/10/2025) di Yoyogi Koen, Tokyo, dan menjadi bagian dari rangkaian besar Festival dan Pameran Budaya Sumatera Barat (Sumbar) yang berlangsung selama empat hari. Direktur Utama Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), Aylawati Sarwono, menyampaikan apresiasi langsung atas inisiatif diaspora Minangkabau di Jepang tersebut. “Terima kasih untuk IKM. Kami dari MURI akan mencatatkan rekor yang dibuat oleh DPP IKM, yaitu marandang, memasak rendang di luar negeri, dengan total 200 kilogram daging,” katanya, Kamis (16/10/2025) malam. Aylawati menegaskan bahwa kehadiran masyarakat Jepang dalam festival ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan rendang lebih luas. “Orang-orang Jepang juga akan hadir di sana, supaya mereka tahu betapa nikmat dan enaknya rendang. Harapan kami, rendang bisa semakin dikenal dan diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Selamat untuk keluarga besar IKM, semoga acaranya berjalan lancar,” katanya. Sementara itu, Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP IKM, Braditi Moulevey Rajo Mudo, menambahkan bahwa rendang bukan sekadar kuliner, melainkan simbol identitas budaya Minangkabau yang telah mendunia. “Rendang ini kan makanan khas dari Sumatera Barat (Sumbar) dan juga masuk ke dalam makanan terenak di dunia nomor satu versi CNN. Insya Allah nanti akan dimasak langsung oleh chef dari Padang, Uda Dian, yang memang spesialis rendang. Setelah itu kita akan makan besar dan membagikannya kepada seluruh pengunjung dan masyarakat yang ada di Tokyo,” katanya. Sebelumnya, Ketua Umum DPP IKM, Andre Rosiade mengatakan, acara tersenut bukan sekadar festival, tetapi bentuk nyata diplomasi budaya Minangkabau. “Rombongan DPP IKM bertolak ke Jepang untuk melantik pengurus Dewan Pengurus Luar Negeri (DPLN) IKM Jepang dan menggelar Festival Budaya Minang. Melalui acara ini, kita memperkenalkan masakan daging rendang ke dunia dengan cara memasak rendang sebanyak-banyaknya,” katanya beberapa waktu lalu. “Ini menjadi momen penting dinobatkannya rekor MURI memasak rendang terbanyak di luar negeri, dengan tema ‘Randang Mendunia’,” sambungnya. Melalui kegiatan ini, rendang bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Minangkabau, tetapi juga ikon kuliner Indonesia di kancah internasional. Rangkaian acara dimulai pada Jumat (17/10/2025) dengan pelantikan pengurus Dewan Perwakilan Luar Negeri Ikatan Keluarga Minangkabau Jepang di Ota Bunka no Mori. Agenda dilanjutkan pada Sabtu (18/10/2025) dengan acara utama Marandang, festival memasak 200 kilogram rendang, yang dikemas bersama pameran budaya Minangkabau, parade busana adat, photobooth pelaminan Minang, pentas seni tari tradisional, serta promosi UMKM dan komunitas diaspora. Pada Minggu (19/10/2025), parade budaya dan pentas seni Minangkabau kembali digelar di lokasi yang sama dengan berbagai pertunjukan tari, silek (silat Minang), fashion show, kajian budaya dan ramah tamah. Kegiatan kemudian ditutup pada Senin (20/10/2025) melalui pelatihan tari Minangkabau di Sekolah Republik Indonesia Tokyo sebagai upaya menjaga keberlanjutan budaya bagi generasi muda diaspora. (*)
Bantu Warga Minang Terdampak Banjir di Bali, Braditi Moulevey Rajo Mudo: Kami juga Ajak IKMS Gabung dan Berkolaborasi dengan IKM

JAKARTA – Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM) akan kembali melakukan aksi solidaritas untuk perantau Minang. Setelah menyerahkan bantuan bagi warga Minang korban kerusuhan di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan pada Minggu (28/9/2025) lalu, organisasi perantau terbesar asal Sumatera Barat (Sumbar) ini dijadwalkan menyambangi Bali untuk memberikan dukungan pasca banjir bandang yang melanda wilayah tersebut. Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP IKM, Braditi Moulevey Rajo Mudo, menyampaikan bahwa dirinya bersama Ketua Umum DPP IKM, Andre Rosiade akan hadir langsung di Bali pada Sabtu (4/10/2025). Dalam kunjungan itu, IKM berencana akan menyalurkan 1.000 paket sembako dan uang tunai Rp100 juta khusus untuk perantau Minang yang terdampak banjir. “Ini adalah wujud kepedulian tanpa batas wilayah. Antar perantau itu saling menguatkan dan mengisi. Nilai kebersamaan Minang berlaku di mana saja, baik di Papua, Bali, atau di mana pun perantau berada,” ujar Braditi, Rabu (1/10/2025). Braditi Moulevey juga mengungkapkan kekagumannya terhadap eksistensi Ikatan Keluarga Minang Saiyo (IKMS) di Bali. Menurutnya, organisasi ini telah berdiri sejak tahun 1960-an dan hingga kini masih eksis, bahkan memiliki sekolah, masjid, serta aula pertemuan. “Ini sesuatu yang luar biasa. Kami di DPP IKM justru ingin menjadi fasilitator dan jembatan bagi kepentingan IKMS dan seluruh perantau Minang di Bali. Tidak ada maksud mengambil alih apa pun yang telah mereka miliki, karena semuanya sudah berjalan baik selama ini,” jelasnya. Ia menambahkan, pihaknya akan mengajak IKMS untuk bergabung dalam wadah besar bernama IKM. Namun, mekanisme pemilihan dan struktur organisasi tetap sepenuhnya diserahkan kepada IKMS. Ketua Umum DPP IKM, Andre Rosiade, menegaskan bahwa langkah ini adalah bagian dari komitmen IKM untuk selalu hadir dalam situasi sulit yang dialami perantau. “Kami ingin menunjukkan bahwa di mana pun ada orang Minang, IKM siap hadir. Banjir di Bali bukan hanya menjadi cobaan bagi warga Bali, tetapi juga bagi perantau Minang yang ikut merasakannya. Karena itu, IKM datang bukan sekadar membawa bantuan materi, tapi juga membawa pesan kebersamaan,” ujar Andre. Sebelumnya, banjir bandang melanda sejumlah wilayah di Bali akibat hujan deras yang mengguyur sejak pertengahan September 2025. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bali mencatat, banjir terjadi di Kabupaten Jembrana, Tabanan, dan beberapa titik di Denpasar. Ratusan rumah terdampak, puluhan keluarga harus mengungsi, serta infrastruktur jalan dan jembatan mengalami kerusakan. Meski kondisi berangsur membaik, banyak warga, termasuk perantau Minang masih membutuhkan dukungan berupa pangan, kebutuhan dasar dan pemulihan ekonomi. Kehadiran DPP IKM bersama bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban warga terdampak, khususnya komunitas Minang yang menetap di Bali. (*)
Sekjen DPP IKM, Braditi Moulevey Rajo Mudo Dampingi Andre Rosiade Salurkan Bantuan untuk Perantau Minang di Wamena

JAKARTA – Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM), Braditi Moulevey Rajo Mudo, mendampingi Ketua Umum DPP IKM, Andre Rosiade dalam kunjungan ke Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan. Kunjungan ini ditujukan untuk menemui para perantau Minang yang terdampak insiden di Yalimo beberapa waktu lalu. Braditi Moulevey menegaskan, kehadiran IKM bukan hanya soal menyalurkan bantuan, tetapi juga bentuk dukungan moral bagi keluarga Minang yang kini menghadapi masa sulit. “Kami ingin saudara kita di tanah Papua tahu bahwa mereka tidak sendirian. Persatuan adalah kekuatan utama orang Minang di manapun berada,” ujarnya, Sabtu (27/9/2025). Ia menambahkan, bantuan yang dibawa diharapkan bisa meringankan beban kebutuhan harian. Namun lebih dari itu, pria yang akrab disapa Levi itu mengingatkan pentingnya menjaga kerukunan. “Hindari konflik yang bisa merugikan banyak pihak. Mari kita jaga kebersamaan, karena orang Minang harus mampu menjadi teladan hidup berdampingan di rantau,” katanya. Meski DPP IKM tengah memfinalisasikan struktur kepengurusan, Moulevey mengatakan bahwa kegiatan tersebut tak menghalangi organisasi perantau tersebut memberikan perhatian dan kepedulian kepada masyarakat serta Perantau Minang di manapun berada. “Walaupun saat ini DPP IKM tengah memfinalisasikan susunan kepengurusan, tapi tidak menghalangi Ketua Umum dan beberapa pengurus yang telah terpilih untuk bekerja membantu masyarakat dan Perantau Minang di manapun berada,” katanya. Terpisah, Ketua Umum DPP IKM, Andre Rosiade, menilai kondisi para perantau Minang di Yalimo cukup memprihatinkan. Situasi keamanan yang belum stabil membuat banyak di antara mereka harus meninggalkan usaha dan rumah demi mencari tempat yang lebih aman di Wamena. “Kami hadir bukan sekadar membawa bantuan materi, tetapi juga memberikan semangat. Dimanapun orang Minang berada, kita adalah satu keluarga yang harus saling menguatkan,” kata Andre, yang juga Wakil Ketua Komisi VI DPR RI. Andre menegaskan bahwa IKM selalu tanggap terhadap kondisi sosial yang menimpa perantau. Ia mengingatkan bahwa pada 2019 lalu dirinya juga sempat mengunjungi Papua untuk menemui korban kerusuhan di Wamena. “Inilah bukti bahwa IKM konsisten hadir untuk ranah dan rantau,” ucapnya. Selain di Papua, Andre dan jajaran IKM juga menyiapkan bantuan bagi perantau Minang di Bali yang terdampak banjir. Menurutnya, langkah ini adalah wujud kepedulian tanpa batas wilayah, karena nilai kebersamaan Minang berlaku di mana saja. Sebelumnya, Ketua DPW IKM Papua, Zulhendri Sikumbang, memberikan klarifikasi terkait isu yang menyudutkan perantau Minang dalam kerusuhan Yalimo. Ia menegaskan warga Minangkabau tidak terlibat dan justru menjadi korban. “Kami mengutuk keras narasi rasis yang beredar, apalagi unggahan di media sosial yang menyudutkan orang Minang,” katanya. Zulhendri menyoroti beredarnya postingan akun Rumah Berkat Online yang menuding pelajar asal Minang sebagai pemicu kerusuhan. Menurutnya, informasi tersebut provokatif dan memperkeruh suasana. Ia mendesak aparat menindak tegas penyebar isu hoaks yang berpotensi memicu konflik antar kelompok. “Orang Minang di Papua selalu menjunjung tinggi falsafah dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Kami hidup rukun dengan semua masyarakat di sini. Karena itu, kami mengajak semua pihak untuk tidak terprovokasi dan lebih mengutamakan perdamaian,” tutup Zulhendri. (*)
IKM Papua Klarifikasi Kerusuhan Yalimo, Tegaskan Warga Minang Tidak Terlibat

PAPUA PEGUNUNGAN – Kerusuhan sosial yang terjadi di Kabupaten Yalimo, Papua Pegunungan, pada Selasa (16/9/2025) lali telah menimbulkan keprihatinan banyak pihak, termasuk masyarakat perantau Minangkabau yang telah lama hidup di Tanah Papua. Dalam peristiwa itu, fasilitas umum, rumah warga, hingga unit usaha terbakar. Suasana mencekam menyebar di tengah masyarakat, dan kabar simpang siur di media sosial menambah kegelisahan. Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Keluarga Minangkabau (IKM) Papua akhirnya merasa perlu meluruskan isu yang berkembang. Ketua DPW IKM Papua, Zulhendri Sikumbang menegaskan bahwa warga Minang sama sekali tidak terlibat dalam kerusuhan di Yalimo. Klarifikasi ini muncul setelah beredar informasi yang menyebut seorang pelajar SMA asal Padang yang dituding menjadi pemicu kerusuhan dengan melontarkan kata-kata bernuansa rasis kepada penduduk asli Papua. “Kami warga Minang yang hidup di Papua sangat prihatin dan mengutuk keras pernyataan yang tidak pantas serta rasis tersebut. Namun, kami tegaskan bahwa masyarakat Minangkabau tidak ada kaitannya dengan kerusuhan ini,” kata Zulbendri dalam keterangan tertulis, Senin (22/9/2025). Ia menyoroti postingan salah satu akun media sosial bernama Rumah Berkat Online yang menyebut, “Seorang siswa SMA di Papua yang berasal dari Padang Minangkabau mengejek temannya penduduk asli Papua… inilah akibatnya yang terjadi pada warga pendatang di Papua.” Postingan itu, menurutnya, telah memperkeruh keadaan dan bahkan memicu sentimen kebencian antar suku di Yalimo. IKM Papua menilai penyebaran informasi tanpa sumber resmi sangat berbahaya, terlebih jika dibumbui narasi provokatif. Karena itu, Zulhendri mendesak pihak kepolisian untuk menindak akun tersebut. “Postingan ini nyata-nyata berdampak luas. Gejolak sosial di Yalimo semakin melebar, dan kerusuhan pun sulit dikendalikan. Kami meminta aparat menindak tegas penyebar isu provokatif di media sosial,” ujarnya. Selain meminta penindakan terhadap pemilik akun tersebut, IKM Papua juga mendorong aparat keamanan meningkatkan patroli siber terhadap akun-akun serupa yang kerap mengunggah informasi tanpa klarifikasi sumber resmi. Zulhendri menekankan, masyarakat butuh ketenangan, bukan provokasi. “Media sosial seharusnya menjadi ruang berbagi informasi yang akurat, bukan tempat menyulut konflik,” katanya. Lebih jauh, ia menegaskan komitmen warga Minangkabau di Papua untuk selalu tunduk pada hukum yang berlaku serta menjunjung tinggi norma sosial. Falsafah Minang, “dimana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”, menjadi pegangan utama dalam kehidupan bermasyarakat. “Kami hidup bersama di Tanah Papua dengan menjunjung tinggi persaudaraan dan kebersamaan. Itu nilai yang selalu kami pegang,” kata Zulhendri. IKM Papua pun menyerukan agar semua pihak tidak mudah terprovokasi isu yang tidak jelas kebenarannya. Menurut Zulhendri, menjaga kerukunan adalah tanggung jawab bersama, apalagi di wilayah multikultural seperti Papua. “Kami mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menahan diri, menjaga persaudaraan, dan mengutamakan perdamaian. Jangan sampai isu yang tidak benar merusak harmoni yang sudah kita rawat bersama,” katanya. Klarifikasi ini diakhiri dengan seruan persatuan khas Minangkabau, “Basamo Mako Manjadi,” sebuah penegasan bahwa kekuatan terletak pada kebersamaan. Dalam suasana yang penuh ketegangan di Yalimo, IKM ingin memberi pesan bahwa keharmonisan sosial hanya bisa dicapai apabila setiap pihak memilih meredam amarah dan menolak provokasi. Terpisah, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) IKM, Braditi Moulevey Rajo Mudo, juga menyampaikan imbauannya. Ia menekankan pentingnya menjaga kerukunan antarsesama perantau Minang. “Bagi perantau Minang dimanapun berada, marilah kita saling menjaga persatuan dan kesatuan, hindari permasalahan dan konflik yang bisa merugikan bagi kita semua,” ujarnya. (*)
Sekjen DPP IKM, Braditi Moulevey Rajo Mudo Soroti Konten Kreator Minang yang Gunakan Bahasa Kasar di Media Sosial

JAKARTA – Fenomena konten kreator atau influencer asal Ranah Minang yang menggunakan bahasa kasar dalam siaran langsung maupun unggahan di media sosial (medsos) belakangan ini menjadi sorotan. Tidak hanya masyarakat di Sumatera Barat (Sumbar), tetapi juga perantau Minang yang memantau dari jauh. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM), Braditi Moulevey Rajo Mudo, menyayangkan tren yang dinilai merusak citra Minangkabau sebagai masyarakat yang dikenal santun, beradat, dan menjunjung tinggi falsafah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS-SBK). “Banyak konten kreator dari Ranah Minang yang menggunakan bahasa tidak pantas, bahkan kasar, di dalam konten maupun siaran langsung mereka. Padahal, masyarakat Minang itu selalu mengedepankan komunikasi yang baik dan berpegang pada falsafah ABS-SBK,” kata Moulevey. Moulevey menilai, konten dengan bahasa kasar dan tidak elok seharusnya menjadi kegelisahan bersama. Media sosial saat ini bukan lagi ruang privat, melainkan konsumsi publik yang ditonton lintas generasi, termasuk anak-anak dan remaja. “Seharusnya mereka malu. Bagaimana anak kemenakan, bahkan ninik mamaknya, melihat tayangan seperti itu? Tentu tidak elok dilihat dan didengar. Apalagi, Minang itu punya norma dan sopan santun yang sudah turun-temurun,” ujarnya. Menurutnya, masyarakat Minang sudah lama dikenal sebagai kelompok yang menjunjung tinggi nilai moral, tata krama, serta adat yang menempatkan kata-kata sebagai cerminan harga diri. Saat bahasa yang kasar menjadi konsumsi publik, maka citra tersebut akan luntur. Perubahan pola komunikasi di era digital memang memberi peluang baru bagi siapa saja untuk menjadi “penyiar” di dunia maya. Namun, tanpa kesadaran etika, ruang ini bisa melahirkan perilaku yang merugikan. Moulevey menekankan, kebebasan berpendapat tidak bisa diartikan sebebas-bebasnya. Ada tanggung jawab sosial, terlebih bagi mereka yang membawa identitas Minangkabau. “Kita tidak anti pada kreativitas atau kebebasan berekspresi. Tapi ekspresi itu harus sesuai dengan norma dan nilai budaya kita. Jangan sampai demi popularitas, malah melupakan marwah Minangkabau,” tegasnya. Sebagai bagian dari perantau Minang, Moulevey menegaskan bahwa komunitas perantau juga ikut memantau konten yang diproduksi oleh kreator asal Sumatera Barat. Ia menyebut, banyak laporan atau pembicaraan yang masuk mengenai fenomena ini, baik di media sosial maupun forum perantau. “Kami sebagai perantau juga merasa punya tanggung jawab moral. Ranah Minang itu bukan hanya milik orang yang tinggal di kampung halaman, tapi juga milik kami di rantau. Kalau citra itu rusak, tentu kami juga ikut merasakan dampaknya,” ujarnya. Fenomena ini, kata Moulevey, menjadi tantangan bagi generasi muda Minang untuk tetap memegang jati diri. Dunia digital boleh saja dimanfaatkan untuk berkarya, berdiskusi, dan membangun jejaring, tetapi tetap harus dalam koridor yang menghormati nilai budaya. “Generasi muda Minang seharusnya tampil sebagai contoh. Jangan sampai kebebasan yang dimanfaatkan di media sosial justru jadi bumerang bagi diri sendiri dan masyarakat,” ujarnya. Ia mengingatkan, adat dan budaya Minang sudah memberikan rambu-rambu yang jelas tentang bagaimana berbicara, bergaul, dan menempatkan diri di tengah masyarakat. Nilai-nilai itu, menurutnya, relevan dengan era apa pun, termasuk di dunia digital. Moulevey berharap, kritik ini bisa menjadi bahan introspeksi bagi para kreator konten di Ranah Minang. Ia mengajak agar setiap karya digital bukan sekadar mencari sensasi, tetapi juga membawa manfaat. “Masyarakat Minang itu terkenal dengan kesopansantunan dan norma yang baik. Kami tidak ingin marwah itu hilang hanya karena ulah segelintir orang yang ingin populer dengan cara instan,” katanya. Lebih jauh, ia menekankan pentingnya membangun ekosistem media sosial yang sehat. Konten yang lahir dari Ranah Minang seharusnya mampu mencerminkan kecerdasan, kebijaksanaan, dan kekayaan budaya. Fenomena bahasa kasar di media sosial seharusnya tidak hanya dilihat sebagai masalah, tetapi juga peluang untuk memperkuat literasi digital. Dengan edukasi, para kreator konten bisa diarahkan agar lebih bijak menggunakan bahasa dan mengemas pesan. Moulevey mengingatkan, kebiasaan berbahasa adalah cermin karakter. “Kalau kita sudah terbiasa kasar di media sosial, lama-lama itu terbawa ke kehidupan nyata. Ini bahaya. Kita tidak ingin generasi kita tumbuh tanpa sopan santun,” ujarnya. Ia menilai, media sosial juga bisa menjadi sarana refleksi. Kreator konten dapat mengubah gaya berkomunikasi menjadi lebih santun, tanpa kehilangan daya tarik. Popularitas bisa lahir dari kualitas, bukan semata-mata sensasi. Pada akhirnya, Moulevey menegaskan, kritik yang ia sampaikan bukan untuk menjatuhkan, melainkan untuk mengingatkan. Sebagai perantau Minang, ia merasa perlu menyuarakan kegelisahan ini agar menjadi perhatian bersama. “Kalau ada konten yang tidak pantas, jangan hanya ditonton. Mari kita beri masukan. Mari kita arahkan supaya lebih baik. Karena Ranah Minang itu milik kita bersama, dan marwahnya harus dijaga bersama,” katanya. Moulevey percaya, dengan kesadaran bersama, masyarakat Minang baik di ranah maupun di rantau mampu menjaga identitasnya di tengah derasnya arus digitalisasi. Kreativitas dan sopan santun, katanya, bisa berjalan beriringan. (*)
Perantau Minang Bangga Aksi Damai di Padang Berjalan Tertib

JAKARTA – Perantau Minang yang juga menjabat sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Keluarga Minang (DPP IKM), Braditi Moulevey Rajo Mudo, memberikan pandangan mendalam atas aksi damai yang digelar ribuan massa di depan Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sumatera Barat (DPRD Sumbar) pada Senin (1/9/2025). Bagi Braditi, peristiwa itu bukan hanya demonstrasi biasa. Ia menyebutnya sebagai cermin adab orang Minang yang menunjukkan bahwa aspirasi bisa disampaikan dengan santun, tertib, dan penuh martabat. Braditi menekankan bahwa aksi damai yang berlangsung hingga sore hari tanpa ricuh adalah gambaran nyata warisan nilai budaya Minangkabau. “Orang Minang diajarkan untuk berkata tegas bila ada yang salah, tetapi keras itu harus tetap dengan adab. Itu yang membedakan kita,” ujarnya, Selasa (2/9/2025). Menurutnya, ribuan mahasiswa, masyarakat, dan pengemudi ojek daring yang bersatu dalam satu barisan berhasil menunjukkan wajah demokrasi yang menyejukkan. “Mereka pulang dengan tertib, meninggalkan pesan, bukan kerusakan,” katanya. Ia menilai, tuntutan yang disuarakan massa memiliki bobot penting, seperti pembenahan keanggotaan DPR, pengesahan RUU Perampasan Aset, reformasi total Polri, hingga transparansi dalam kasus kematian Affan Kurniawan. “Itu bukan sekadar teriakan di jalan. Itu suara rakyat yang menginginkan keadilan. Anak-anak muda kita sudah paham, demokrasi bukan hanya soal hak, tapi juga soal tanggung jawab untuk memperbaiki bangsa,” katanya. Braditi Moulevey mengingatkan bahwa kritik tidak harus menyinggung pribadi, apalagi memicu kekerasan. “Kita boleh lantang menolak kebijakan yang keliru, tapi jangan sampai lantang itu berubah jadi kebencian pada sesama,” tegasnya. Ia menilai aksi di Padang adalah bukti nyata bahwa kritik bisa membangun. “Kalau semua daerah bisa mencontoh Sumbar hari ini, maka demokrasi kita akan lebih sehat,” tambahnya. Pesan untuk Pemerintah Sekjen IKM itu juga memberi catatan penting bagi DPRD dan pemerintah daerah. Menurutnya, menandatangani tuntutan massa bukanlah akhir, melainkan awal tanggung jawab. “Janji untuk mengawal aspirasi harus benar-benar dibuktikan. Kalau rakyat dikhianati, kepercayaan yang runtuh akan sulit dipulihkan. Orang Minang itu kritis, sekali dikecewakan, mereka akan ingat lama,” katanya. Dirinya berharap pemerintah pusat turut mendengar. “Aspirasi dari Padang ini adalah suara Indonesia juga. Jangan hanya didengar, tapi wujudkan dalam kebijakan,” ujarnya. Sebagai seorang perantau, Moulevey mengaku memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menyuarakan pandangan. Ia menyebut banyak perantau Minang di dalam dan luar negeri yang memantau aksi unjuk rasa di Ranah atau kampung halaman. “Kami di rantau ikut merasa memiliki kampung halaman. Apa yang terjadi di Padang mencerminkan siapa kami di mata orang luar. Karena itu, aksi damai ini sangat membanggakan,” ucapnya. Menurutnya, perantau bukan hanya pencari nafkah, melainkan juga penjaga nama baik. “Kalau di kampung halaman kita rusuh, maka citra Minang di rantau ikut tercoreng. Tapi hari ini, kita buktikan Minang itu santun,” ujarnya. Kasus Affan Jadi Luka Bersama Di antara tuntutan, kasus kematian Affan Kurniawan mendapat sorotan khusus. Braditi menilai kasus ini harus diusut tuntas. “Affan adalah simbol rakyat kecil yang sering kali jadi korban. Kalau tidak ada transparansi, luka ini akan semakin dalam. Kita menuntut keadilan bukan untuk Affan saja, tapi untuk seluruh rakyat,” katanya. Ia mendukung penuh desakan massa agar aparat membuka fakta sebenarnya. “Jangan biarkan kasus ini ditutup rapat. Kalau hukum hanya tajam ke bawah, maka hilanglah kepercayaan rakyat,” tegasnya. Pria yang akrab disapa Levi itu juga mengingatkan bahaya media sosial yang sering kali menggiring opini tanpa adab. “Di dunia maya, orang mudah marah, mudah memaki, tanpa memikirkan adab. Itu bertolak belakang dengan nilai Minang,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya menjaga prinsip adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah. “Kalau itu kita pegang, maka demokrasi akan tetap berlandaskan moral dan agama, bukan sekadar kebebasan kosong,” katanya. Pasca aksi damai di Padang, ia melihat ada harapan baru untuk Indonesia. “Dari aranah Minang kita diajarkan, kritik bisa dilakukan tanpa merusak. Inilah modal sosial yang harus dijaga,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa demokrasi tidak boleh berhenti pada demonstrasi. “Setelah aksi, tugas kita adalah mengawal. Setelah kritik, tugas kita adalah membangun. Itulah makna demokrasi yang sebenarnya,” katanya. Ia mengatakan, orang Minang tidak pernah takut bersuara, tapi suara itu selalu dibalut dengan adab. “Inilah yang harus kita jaga bersama. Dari Sumbar untuk Indonesia, kita ajarkan demokrasi yang bermartabat,” pungkasnya. (*)